{"id":10246,"date":"2024-11-11T07:59:01","date_gmt":"2024-11-11T00:59:01","guid":{"rendered":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10246"},"modified":"2024-11-11T07:59:35","modified_gmt":"2024-11-11T00:59:35","slug":"santiaji-nasional-pancasila-dengan-tema-tantangan-pelestarianwarisan-budaya-indonesia-malaysia-di-tengah-dinamika-kotakosmopolitan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10246","title":{"rendered":"Santiaji Nasional Pancasila dengan tema &#8220;Tantangan Pelestarian Warisan Budaya Indonesia-Malaysia di Tengah Dinamika KotaKosmopolitan&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><strong>Malang, 8 November 2024<\/strong><\/em> \u2013 UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan kegiatan Santiaji Nasional Ke-2 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 8 November 2024, bertempat di Aula Gedung B31 Universitas Negeri Malang. Acara yang mengusung tema <em><strong>&#8220;Tantangan Pelestarian Warisan Budaya Indonesia-Malaysia di Tengah Dinamika Kota Kosmopolitan&#8221;<\/strong><\/em> ini dihadiri oleh  mahasiswa, Universitas Negeri Malang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Santiaji Nasional Ke-2 ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan diskusi mengenai pentingnya pelestarian warisan budaya yang menjadi identitas bangsa, khususnya antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya yang sangat kaya. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi yang semakin pesat, pelestarian budaya harus diselaraskan dengan dinamika perkotaan yang semakin kosmopolitan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-13.18.28-1-1024x682.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10247\" srcset=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-13.18.28-1-980x653.jpeg 980w, https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-13.18.28-1-480x320.jpeg 480w\" sizes=\"auto, (min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan Kepala UPT Laboratorium Pancasila UM yaitu Bapak <strong>Abd. Mu&#8217;id Aris Shofa, S.Pd, M.Sc,<\/strong> yang menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai wadah untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya. &#8220;Warisan budaya adalah harta tak ternilai yang harus kita lestarikan. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli dan terlibat aktif dalam upaya pelestarian budaya, baik secara lokal maupun lintas negara, seperti Indonesia-Malaysia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai bagian dari rangkaian acara, Santiaji Nasional Ke-2 menghadirkan sejumlah narasumber ahli dalam bidang kebudayaan, sejarah, dan hubungan internasional. Narasumber yang pertama adalah <strong>Dr. Deny Yudo Wahyudi, S.Pd, M.Hum<\/strong> (Dosen Prodi Sejarah) narasumber membahas beragam isu terkait dengan pelestarian warisan budaya, baik yang bersifat material maupun immaterial, serta tantangan yang dihadapi dalam konteks kota kosmopolitan yang terus berkembang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">sedangkan Narasumber yang kedua adalah Bapak <strong>Rusli Bin Haji Noor<\/strong> ( Pengarah Konservasi dan Arkeolog  jabatan warisan negara Malaysia tahun 2006) beliau banyak menyampaikan sejarah perbatasan pada area Malaysia-Indonesia sebagai pengayaan pengetahuan bagi mahasiswa. Diskusi juga membahas tentang pentingnya kolaborasi antara kedua negara dalam melestarikan budaya bersama, terutama yang berkaitan dengan hubungan historis dan kesamaan budaya yang ada di Indonesia dan Malaysia. Tak hanya itu, peserta juga diajak untuk berdiskusi mengenai strategi-strategi yang bisa diterapkan di kota-kota besar yang semakin global, di mana perubahan sosial dan budaya sering kali menyebabkan tumpang tindih antara nilai tradisional dan modern.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-08.37.33-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10248\" srcset=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-08.37.33-980x735.jpeg 980w, https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp-Image-2024-11-08-at-08.37.33-480x360.jpeg 480w\" sizes=\"auto, (min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, khususnya bagi generasi muda, untuk lebih memahami dan mencintai warisan budaya mereka. Lebih lanjut, acara ini juga bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Malaysia melalui pemahaman bersama tentang pelestarian budaya yang menjadi bagian dari warisan bersama kedua negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai penutup, acara diakhiri dengan sesi tanya jawab, yang memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menggali lebih dalam tentang tema yang diangkat. Santiaji Nasional Ke-2 ini mendapatkan respons yang sangat positif dari seluruh peserta, dan menjadi momentum penting dalam upaya mempromosikan pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malang, 8 November 2024 \u2013 UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan kegiatan Santiaji Nasional Ke-2 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 8 November 2024, bertempat di Aula Gedung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[3,14,2,5,8],"tags":[],"class_list":["post-10246","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bahan-diskusi","category-berita","category-hasil-kajian","category-kajian-rutin-pancasila","category-seminar-nasional-pancasila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10246"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10246\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10250,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10246\/revisions\/10250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}