{"id":10362,"date":"2025-10-28T14:44:02","date_gmt":"2025-10-28T07:44:02","guid":{"rendered":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10362"},"modified":"2025-10-28T14:44:04","modified_gmt":"2025-10-28T07:44:04","slug":"lapasila-um-dan-lesbumi-malang-kukuhkan-semangat-kebangsaan-multikultural","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10362","title":{"rendered":"Lapasila UM dan Lesbumi Malang Kukuhkan Semangat Kebangsaan Multikultural"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0211-1-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10363\" style=\"width:630px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0211-1-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0211-1-980x735.jpg 980w, https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251024-WA0211-1-480x360.jpg 480w\" sizes=\"auto, (min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>MENTAL KEBANGSAAN 2<\/strong>&nbsp;\u2014 Di tengah derasnya arus globalisasi dan gempuran budaya luar yang kian mengikis identitas bangsa, Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (Lapasila UM) menggandeng Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kota Malang untuk menggelar kegiatan bertajuk Mental Kebangsaan: Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural dan Kearifan Lokal sebagai Landasan Berkebudayaan<em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara tersebut berlangsung khidmat pada Kamis (23\/10\/2025), di Pesantren Budaya Karanggenting, Malang, menghadirkan tiga narasumber utama yang mewakili tiga pilar penting: kebudayaan, pendidikan, dan keagamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga tokoh tersebut ialah dr. Akhirul Aminulloh, Kepala Lapasila Universitas Negeri Malang (UM), Dhohir Sindu Herlianto, budayawan dan penggerak kebudayaan lokal; serta Fathul Panata Praja, Ketua Lesbumi Kota Malang. Hadir pula para santri, akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap penguatan karakter kebangsaan dan keberagaman budaya di era disrupsi ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sambutannya, Kepala Lapasila UM, dr. Akhirul Aminulloh menegaskan Pancasila adalah dasar ideologis yang tidak hanya berfungsi sebagai doktrin normatif, tetapi juga sebagai panduan praktis dalam mengelola perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural. Ia mengajak peserta untuk tidak hanya memahami Pancasila secara tekstual, tetapi juga menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPancasila bukan sekadar simbol atau hafalan lima sila. Ia adalah cara hidup yang menuntun kita untuk adil, beradab, dan menghormati keberagaman. Dalam konteks multikultural, kearifan lokal berfungsi sebagai akar yang menjaga budaya nasional tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman,\u201d kata Akhirul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menambahkan, Lapasila UM berkomitmen menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi pengembangan riset dan inovasi kebudayaan yang berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan sosial. Melalui kegiatan seperti ini, universitas berperan bukan hanya sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai benteng nilai moral bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Dhohir Sindu Herlianto menggarisbawahi peran kebudayaan lokal sebagai ruang dialog antarperbedaan. Menurutnya, kebudayaan harus ditempatkan sebagai jembatan yang menyatukan keberagaman, bukan pemisah antaridentitas. Ia mengingatkan bahwa warisan budaya Nusantara bukan sekadar benda pusaka atau kesenian masa lalu, melainkan energi spiritual yang menguatkan rasa kebersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMultikulturalisme Indonesia tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus hidup dalam tindakan. Setiap tradisi, bahasa, dan kesenian lokal adalah potongan mozaik yang menyempurnakan identitas nasional kita. Jika satu bagian hilang, maka Indonesia kehilangan sebagian dari jiwanya,\u201d kata Dhohir dengan penuh penekanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun Fathul Panata Praja, Ketua Lesbumi Kota Malang, menyoroti pentingnya peran pesantren budaya sebagai garda depan pembinaan karakter kebangsaan. Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pelestarian nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPesantren budaya memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang religius sekaligus toleran. Religiusitas sejati tidak bertentangan dengan keberagaman. Justru dari pesantrenlah kita belajar menghargai perbedaan sebagai bagian dari rahmat,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fathul menambahkan, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat mental kebangsaan generasi muda di tengah derasnya pengaruh budaya global yang sering kali mengikis rasa nasionalisme. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai lokal dan spiritualitas harus dijaga agar tetap menjadi penopang utama karakter bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif antara peserta dan para narasumber. Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat. Para peserta, mulai dari santri hingga pegiat seni, aktif menyampaikan pandangan mereka mengenai tantangan menjaga nilai-nilai lokal di tengah modernisasi. Beberapa peserta bahkan menyoroti pentingnya media sosial sebagai ruang baru untuk menyebarkan nilai-nilai kebangsaan dengan cara kreatif dan menarik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Antusiasme peserta mencerminkan semangat kebangsaan dan kesadaran multikultural masih mengakar kuat di kalangan masyarakat Malang. Mereka sepakat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya soal infrastruktur dan teknologi, tetapi juga penguatan karakter, budaya, dan moralitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Akhirul melalui kegiatan&nbsp;<em>Mental Kebangsaan<\/em>&nbsp;ini, Lapasila UM dan Lesbumi Kota Malang menegaskan komitmen mereka untuk menjadikan nilai-nilai multikultural dan kearifan lokal bukan sekadar warisan, melainkan energi moral dan spiritual yang menuntun arah kebudayaan bangsa menuju masa depan yang inklusif, humanis, dan berkeadilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDi tengah disrupsi budaya dan tantangan global, pesan yang bergema dari Karanggenting hari itu sangat jelas menjadi Indonesia berarti menjaga keberagaman, merawat kebijaksanaan lokal, dan menegakkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah kehidupan,\u201d tukas Akhirul.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENTAL KEBANGSAAN 2&nbsp;\u2014 Di tengah derasnya arus globalisasi dan gempuran budaya luar yang kian mengikis identitas bangsa, Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (Lapasila UM) menggandeng Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-10362","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10362"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10362\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10364,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10362\/revisions\/10364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}