{"id":10448,"date":"2026-05-22T07:48:13","date_gmt":"2026-05-22T00:48:13","guid":{"rendered":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10448"},"modified":"2026-05-22T07:48:14","modified_gmt":"2026-05-22T00:48:14","slug":"diskusi-pancasila-4-bedah-bukusuluh-pancasila-bung-karno-mengungkap-relevansi-trisakti-di-era-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=10448","title":{"rendered":"DISKUSI PANCASILA #4: BEDAH BUKU&#8221;SULUH PANCASILA BUNG KARNO&#8221; MENGUNGKAP RELEVANSI TRISAKTI DI ERA MODERN"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-19-at-15.53.50-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10449\" style=\"width:728px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-19-at-15.53.50-980x735.jpeg 980w, https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-19-at-15.53.50-480x360.jpeg 480w\" sizes=\"auto, (min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Malang, 19 Mei 2026 \u2013<\/strong> UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang sukses menyelenggarakan Diskusi Pancasila #4 dengan agenda bedah buku berjudul &#8220;Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian&#8221;. Acara yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, pukul 15.00 \u2013 17.00 WIB di Gedung B31 UPT Laboratorium Pancasila, Jl. Veteran No. 9, Universitas Negeri Malang ini, menghadirkan penulis buku, Angga Sukmara C. Permadi, S.IP., M.IP., sebagai pembicara utama dan Zulfikar Waliyuddin Fattah, M.Pd., sebagai pembedah buku. Diskusi ini dimoderatori oleh Asyrofi dari Universitas Negeri Malang. Acara ini bertujuan untuk membincangkan kembali gagasan besar Bung Karno tentang kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian bangsa di tengah disrupsi zaman modern, serta menggali relevansi Trisakti dalam menjawab tantangan global hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku &#8220;Suluh Pancasila: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian&#8221; ditulis oleh Dr. Riyanto, M.Hum dan Angga Sukmara C. Permadi, S.IP., M.IP. Buku ini mengangkat tema utama Trisakti sebagai pilar perjuangan bangsa Indonesia, yang meliputi Kedaulatan Politik, Kemandirian Ekonomi, dan Identitas Budaya. Relevansi buku ini terletak pada perannya sebagai landasan ideologis dan karakter bangsa, bukan sekadar teks ideologi, melainkan peta jalan bagi bangsa yang ingin berdiri tegak di atas kakinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Zulfikar Waliyuddin Fattah, M.Pd., dalam pembedahannya, menjelaskan struktur buku yang terbagi menjadi enam bab, antara lain:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab I: Shaka-Dvipa: Surga di Bumi.<\/strong> Bab ini membahas jati diri dan Pancasila sebagai kodrat luhur manusia. Analogi Shaka-Dvipa menggambarkan Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan cerminan kodrat luhur manusia yang bertugas menghidupkan dalam sandiwara kehidupan. Indonesia dipandang sebagai pewaris peradaban luhur yang merdeka, dipenuhi nilai-nilai cinta kepada Nusantara melampaui batas geografis. Siklus Caturyuga menjelaskan perkembangan Nusantara dalam siklus historis, di mana bangsa sedang berada di fase kebangkitan menuju puncak peradaban. Konsep Pemimpin Hasta Brata juga diperkenalkan, di mana pemimpin ideal belajar dari alam semesta untuk membangun peradaban, bukan sekadar negara dengan kekuasaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab II: Sistem Pemerintahan &amp; Ancaman.<\/strong> Bab ini mengkaji ulang Demokrasi Terpimpin di tengah warisan budaya patrimonial dan pergeseran sentralistik menuju desentralistik yang membutuhkan pemahaman peta budaya dan aktor sosio-politik. Indonesia yang rawan konflik disolusi dengan pembangunan human skill, material, dan mental.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab III: Masyarakat, Kebudayaan &amp; Perubahan.<\/strong> Bab ini memperkenalkan empat metode memaknai sesuatu: Keuletan (tradisi leluhur), Otoritas (tokoh masyarakat, sistem perwakilan), Intuisi (kepekaan rasa), dan Ilmiah (empiris, sebab-akibat). Penguatan identitas melalui sejarah, bukti historis, dan hubungan dengan leluhur ditekankan, serta Pancasila sebagai modal nasional, sosial, dan kultural.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab IV: Pancasila Sangkan Parane Dumadi.<\/strong> Bab ini merefleksikan kelahiran Pancasila dari proses filsafat dan renungan mendalam, bukan impor ideologi asing. Dialog imajiner dengan tokoh-tokoh bangsa juga disajikan untuk menemukan jiwa dan tujuan Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab V: Menjaga Nyala Revolusi.<\/strong> Bab ini membahas Pancasila sebagai takdir Ilahi, ideologi penyeimbang dunia yang ditawarkan sebagai solusi perdamaian global. Konsep Manusia Pancasila ditekankan sebagai perwujudan Pancasila dalam tindakan nyata, serta dualisme perjuangan antara cita-cita masyarakat adil makmur dan kecenderungan kapitalisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bab VI: Babak Baru Revolusi.<\/strong> Bab ini mengulas &#8220;Rediscovery of Our Revolution&#8221; yang disampaikan Bung Karno pada pidato 17 Agustus 1959, mencerminkan isi Dekret Presiden. Manifesto Politik (Manipol USDEK) sebagai panduan yang meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian, juga dibahas. Cita-cita &#8220;Gemah Ripah Loh Jinawi&#8221; yang berarti bangsa makmur, berdaulat, dan bermartabat, menjadi penutup lingkaran revolusi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Analisis Kritis dan Relevansi Masa Kini<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Zulfikar Waliyuddin Fattah menyoroti beberapa poin kritis dari buku ini. Salah satunya adalah gagasan bahwa &#8220;Pancasila menjadi solusi perdamaian dunia.&#8221; Ia mempertanyakan bagaimana Pancasila dapat menjadi solusi global jika problem keadilan sosial di dalam negeri sendiri belum terselesaikan. Selain itu, ia juga menyoroti minimnya kritik terhadap praktik kekuasaan Bung Karno, khususnya terkait evaluasi jalannya Demokrasi Terpimpin, konflik, dan problem ekonomi pada masa Orde Lama, serta personalisasi kekuasaan. Mengutip Robert Dahl, Zulfikar menekankan bahwa stabilitas politik tidak boleh dibangun dengan mengorbankan pluralisme dan oposisi politik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep &#8220;Manusia Pancasila&#8221; juga menjadi sorotan. Zulfikar mempertanyakan siapa yang menentukan konsep manusia Pancasila dan siapa yang dianggap tidak Pancasilais, mengingat dalam sejarah Indonesia, label &#8220;anti Pancasila&#8221; pernah digunakan untuk membungkam kritik, menstigma oposisi, dan mengontrol wacana publik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku ini memiliki kelebihan dalam menjembatani gagasan lama ke tantangan hari ini, menyajikan rekonstruksi yang dapat dibaca lintas kalangan, dan menempatkan Pancasila sebagai &#8216;suluh&#8217; atau penerang jalan, bukan sekadar dasar negara. Namun, terdapat keterbatasan terkait transparansi batas antara rekonstruksi dan interpretasi, tawaran implementasi yang masih perlu dikembangkan, dan potensi tafsir tunggal Trisakti yang bisa membungkam alternatif interpretasi lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Relevansi Trisakti di masa kini sangat ditekankan. Konsep Berdaulat dihubungkan dengan kedaulatan data dan digital di era AI dan geopolitik multipolar. Berdikari dikaitkan dengan hilirisasi versus ketergantungan impor pangan dan teknologi. Sementara Berkepribadian relevan dengan krisis identitas generasi muda di tengah arus budaya global.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pancasila sebagai Pijakan Bangsa Hari Ini<\/strong><br><br>Buku ini menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar ornamen, melainkan strategi kebangsaan yang hidup. Trisakti dianggap relevan sepanjang masa, di mana wajah ancaman berubah, tetapi substansi kedaulatan tetap sama. Buku ini direkomendasikan sebagai sumber utama bagi pendidik untuk menanamkan karakter kebangsaan, serta cocok dibaca oleh birokrat, pemimpin muda, dan generasi muda Indonesia sebagai bahan refleksi dalam memahami arah masa depan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angga Sukmara C. Permadi, dalam paparannya, juga menyoroti krisis identitas dan jati diri bangsa yang diakibatkan oleh pengaburan sejarah, penghancuran bukti sejarah, dan terputusnya hubungan dengan leluhur. Ia mengutip Yurelina, seorang wartawan dan penulis dari Swedia, yang mengkategorikan ancaman kehancuran bangsa dalam tiga hal tersebut. Angga menekankan bahwa hilangnya identitas nasional membuat bangsa mudah dipengaruhi budaya asing, seperti K-pop, Jepang, Bollywood, dan budaya Barat lainnya, tanpa kemampuan untuk berekspansi keluar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia juga menyoroti fenomena &#8220;berakhirnya evolusi pemikiran manusia&#8221; ketika identitas diri sebagai bangsa Indonesia hilang, digantikan oleh identitas hip-hop, wibu, Bollywood, atau American style. Bahasa Indonesia, yang seharusnya menjadi pemersatu, mulai dirusak oleh percampuran bahasa. Angga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia terlahir bilingual, menguasai bahasa ibu dan bahasa nasional, sebuah keunggulan yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa lain. Ia mengkritik sikap masyarakat Indonesia yang lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa sendiri, berbeda dengan masyarakat Eropa yang bangga dengan bahasa ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angga juga membahas visi &#8220;Cita Nusantara&#8221; yang dirumuskan dalam buku, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, dengan sila-sila Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial sebagai pilarnya. Ia menggarisbawahi kecantikan Bung Karno terhadap kebudayaan rakyat, yang dianggap sebagai alat pemersatu bangsa dan jiwa nasionalisme. Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi universal di dunia internasional, menunjukkan kebanggaan dan cinta budaya bangsa yang menyatu dengan rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persatuan dan kebhinekaan juga menjadi poin penting. Angga menekankan bahwa kebhinekaan harus menjadi kekuatan bangsa, bukan sekadar nama. Persatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan &#8220;unity in diversity.&#8221; Gotong royong sebagai ciri khas Indonesia adalah manifestasi nilai-nilai Pancasila dan persatuan yang penting untuk mencapai kesejahteraan sosial. Ia mengutip Bung Karno yang mengingatkan bahwa bangsa Indonesia hendak mendirikan satu negara atau bangsa untuk semua, bukan untuk satu orang atau golongan, dan berbangsa untuk selama-lamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai kesimpulan, Angga menegaskan bahwa Pancasila merupakan jati diri bangsa Indonesia yang lahir dari nilai-nilai luhur sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Nusantara. Oleh karena itu, bangsa Indonesia perlu menjaga sejarahnya, menghidupkan budaya, serta mempertahankan nilai-nilai luhur sebagai sumber identitas dan kekuatan nasional. Pemikiran Bung Karno tentang Pancasila tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga masa depan Indonesia yang bermartabat, berdaulat, dan berdiri di atas kakinya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malang, 19 Mei 2026 \u2013 UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang sukses menyelenggarakan Diskusi Pancasila #4 dengan agenda bedah buku berjudul &#8220;Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian&#8221;. Acara yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-10448","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10448"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10448\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10450,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10448\/revisions\/10450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}