{"id":1303,"date":"2016-07-26T14:18:42","date_gmt":"2016-07-26T07:18:42","guid":{"rendered":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=1303"},"modified":"2016-07-26T14:18:42","modified_gmt":"2016-07-26T07:18:42","slug":"kedudukan-dan-makna-pembukaan-undang-undang-dasar-negara-ri-tahun-1945-oleh-a-rosyid-al-atok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/?p=1303","title":{"rendered":"Kajian Rutin Pancasila ke-2 (2016): Kedudukan dan Makna Pembukaan Undang Undang Dasar Negara RI Tahun 1945"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>KEDUDUKAN DAN MAKNA <\/strong><strong style=\"font-size: inherit;\">PEMBUKAAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA RI TAHUN 1945<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Oleh : Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, MH<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kedudukan Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, yang kemudian disebut dengan UUD 1945, adalah Undang-Undang Dasar Proklamasi, artinya sebagai perwujudan dari\u00a0 tujuan Proklamasi Kemerdekaan\u00a0 17 Agustus 1945.\u00a0Pada saat ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 7 Tahun II tanggal 16 Februari 1946, UUD 1945 terdiri dari bagian Pembukaan, Batang Tubuh, Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan.\u00a0Demikian pula Pasal II Aturan Tambahan Perubahan Keempat UUD Negara RI Tahun 1945 menentukan: \u201cDengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal.\u201d<\/p>\n<p>Meskipun Pembukaan merupakan bagian dari UUD 1945, Pembukaan mempunyai kedudukan setingkat lebih tinggi dari Pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945. Kedudukan lebih tinggi ini karena Pembukaan UUD 1945: (a) mengandung jiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan suasana kerohanian dari terbentuknya Negara RI; (b) memuat tujuan negara dan dasar negara Pancasila; (c) menajdi acuan atau pedoman dalam perumusan Pasal-pasal UUD 1945. Dengan demikian Pembukaan UUD 1945 merupakan <em>Staatsfundamentalnorm <\/em>\u00a0atau yang disebut dengan Norma Fundamental Negara,\u00a0Pokok Kaidah Fundamental Negara,\u00a0atau Norma Pertama,\u00a0yang merupakan norma tertinggi dalam suatu negara. Ia merupakan norma dasar (<em>Grundnorm<\/em>) yang bersifat <em>pre-supposed<\/em>\u2019 atau\u00a0 ditetapkan terlebih dahulu oleh masyarakat\u00a0 dan karena itu tidak dibentuk oleh suatu norma yang lebih tinggi. Ia juga merupakan norma yang menjadi tempat bergantungnya norma-norma hukum di bawahnya, termasuk menjadi dasar bagi pembentukan konstitusi atau Undang-Undang Dasar suatu negara. Ia juga merupakan landasan dasar filosofis yang mengandung kaidah-kaidah dasar bagi pengaturan negara lebih lanjut.\u00a0Menurut Hans Kelsen\u00a0 bahwa norma hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan norma hukum yang lebih tinggi, dan norma hukum yang lebih tinggi itu tidak boleh bertentangan dengan norma lain yang lebih tinggi lagi, begitu seterusnya hingga\u00a0 rangkaian norma ini diakhiri oleh suatu norma dasar tertinggi (<em>staatsfundamentalnorm<\/em>).\u00a0Pendapat Kelsen ini kemudian dikenal dengan <em>Stufentheorie<\/em>.<\/p>\n<p>Unduh Artikel Lengkap\u00a0<a href=\"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/PEMBUKAAN-UNDANG-UNDANG-DASAR-NEGARA-RI-TAHUN-1945.doc\">PEMBUKAAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA RI TAHUN 1945<\/a><\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KEDUDUKAN DAN MAKNA PEMBUKAAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA RI TAHUN 1945 Oleh : Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, MH Kedudukan Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-1303","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kajian-rutin-pancasila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1303"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1303\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lab-pancasila.um.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}