
Malang, 9 Juni 2026 – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) kembali menyelenggarakan Santiaji Pancasila sebagai ruang dialog akademik untuk membahas berbagai isu strategis kebangsaan. Mengangkat tema “Islam, Kearifan Lokal, dan Pancasila: Menegosiasikan Identitas Keagamaan dalam Masyarakat Multikultural Indonesia”, kegiatan yang berlangsung di Graha Rektorat Lantai 9 Universitas Negeri Malang ini menghadirkan akademisi dan pemikir terkemuka untuk mendiskusikan tantangan pengelolaan keberagaman di Indonesia.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, guru, mahasiswa, peneliti, pegiat pendidikan, pemerhati kebangsaan, hingga berbagai komunitas masyarakat. Kehadiran peserta dengan latar belakang yang beragam mencerminkan tingginya perhatian publik terhadap isu-isu toleransi, identitas keagamaan, dan penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Narasumber utama, Prof. Dr. Mun’im Sirry dari Notre Dame University, Amerika Serikat, menyoroti pentingnya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membangun masyarakat yang toleran dan mencegah berkembangnya sikap intoleran. Menurutnya, keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan modern, sehingga diperlukan upaya sistematis untuk membangun kesadaran warga negara agar mampu hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.
Dalam paparannya, Prof. Mun’im Sirry menjelaskan bahwa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter warga negara yang mampu menjunjung tinggi prinsip-prinsip kehidupan bersama dalam masyarakat multikultural.
Ia menegaskan bahwa tantangan intoleransi yang muncul di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan hukum dan kebijakan. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter kewarganegaraan menjadi salah satu instrumen penting untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang plural.
Sementara itu, Achmad Tohe, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, mengulas isu moralitas sebagai fondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang beragam. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa berbagai persoalan sosial yang muncul dewasa ini tidak hanya berkaitan dengan aspek politik dan hukum, tetapi juga berakar pada persoalan moralitas yang memengaruhi cara individu dan kelompok berinteraksi dalam kehidupan sosial.
Menurut Achmad Tohe, moralitas berperan penting dalam membentuk sikap saling menghormati, empati, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai moral yang hidup dalam tradisi masyarakat maupun ajaran agama menjadi modal penting untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman identitas yang dimiliki masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, penguatan moralitas perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya menjaga persatuan dan mencegah munculnya konflik sosial.
Diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Bambang Prastio, M.Pd. berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan serta tanggapan yang disampaikan peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap tema yang diangkat. Dialog tidak hanya membahas aspek konseptual, tetapi juga mengaitkannya dengan berbagai tantangan aktual yang dihadapi masyarakat Indonesia, termasuk perkembangan media digital, polarisasi sosial, serta dinamika identitas keagamaan di ruang publik.
Melalui forum ini, peserta memperoleh kesempatan untuk merefleksikan kembali pentingnya membangun kehidupan berbangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan moralitas. Diskusi juga menegaskan bahwa penguatan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta pembangunan moralitas publik merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam merawat keberagaman Indonesia.
Penyelenggaraan Santiaji Pancasila 2026 menjadi bagian dari komitmen UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang dalam menghadirkan ruang akademik yang mendorong pengembangan pemikiran kritis, dialog lintas perspektif, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat modern, forum semacam ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam membangun masyarakat Indonesia yang inklusif, toleran, demokratis, dan berkeadaban.
