Malang, 24 Juni 2025 – Dalam upaya menjawab tantangan kebangsaan di era disrupsi digital, Universitas Negeri Malang (UM) melalui UPT Laboratorium Pancasila menyelenggarakan Rembug Nasional Pancasila 2025 dengan tema “Menyalakan Kembali Api Pancasila: Menjawab Krisis Kebangsaan di Era Disrupsi”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 24 Juni 2025 bertempat di Aula Lantai 9 Gedung Rektorat Universitas Negeri Malang.

Rembug Nasional ini menjadi forum akademik strategis yang mempertemukan berbagai pihak untuk mengevaluasi, merefleksikan, dan merumuskan kembali peran nilai-nilai Pancasila dalam membangun daya tahan bangsa terhadap berbagai bentuk krisis multidimensional, mulai dari krisis identitas, intoleransi, hingga tantangan terhadap demokrasi dan solidaritas sosial.

Kegiatan ini terdiri dari dua sesi utama sesi pemaparan kunci oleh Sukidi, Ph.D., seorang pemikir kebinekaan terkemuka yang dikenal atas gagasannya dalam bidang filsafat politik dan pengembangan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat modern. Kedua, acara ini dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) Nasional yang melibatkan perwakilan dari Pusat Studi Pancasila berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dengan fokus pembahasan pada strategi implementasi pendidikan Pancasila yang kontekstual, adaptif, dan berorientasi masa depan.

Kepala UPT Laboratorium Pancasila UM, Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa Rembug Nasional ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan tinggi untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan karakter kebangsaan yang transformatif.

“Kita tidak cukup hanya menghafal lima sila. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran baru untuk menjadikan Pancasila sebagai landasan etis dalam berpikir, bertindak, dan membangun masa depan bersama. Melalui forum ini, kami ingin menyalakan kembali api Pancasila sebagai sumber kekuatan bangsa di tengah terpaan disrupsi dan krisis kepercayaan publik,” ungkap Dr. Akhirul.

Hasil dari Rembug Nasional ini dirumuskan dalam bentuk Deklarasi Rembug Nasional Pancasila 2025, yang merefleksikan sikap bersama komunitas akademik dalam menjaga relevansi Pancasila di era teknologi. Acara ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang tidak hanya mempertemukan wacana, tetapi juga membangun jejaring kerja antar pusat studi dan penggerak nilai kebangsaan di seluruh Indonesia.